Sabtu, 21 September 2013

MAHASISWA PEJUANG PEJUANG MAHASISWA (5)


BAGIAN LIMA
Setia Sampai Akhir

Dunia politik memang sangat dinamis.  Perubahan terjadi setiap saat tanpa mengenal waktu, bahkan detik demi detik.  Tak jarang, perubahan itu mempengaruhi aktivis politik atau politisi yang ikut berubah pandangan atau haluan.  Pendapat sebagian orang bahwa politik Indonesia identik dengan politik kotor, kepentingan jangka pendek untuk meraih kekuasaan dengan menggunakan segala cara.  Politisi rela melakukan apapun untuk mencapai apa yang diinginkan.  Bukan hal aneh jika politisi berganti baju, loncat partai sana-sini.  Mereka juga tidak segan mengorbankan konstituen yang notebene diwakili untuk memperjuangkan aspirasi masyarakat.  Politisi jenis ini tidak dibutuhkan di negeri tercinta ini.
Hasilnya, sebagian besar masyarakat kita kian apatis terhadap jagad politik yang korup.  Banyak partai politik yang tidak jelas ideologi, cita-cita dan warna kebijakannya.  Hiruk pikuk politik Indonesia saat ini jauh berbeda dengan dinamika politik para pendiri republik yang kuat karakter ideologi, konsisten garis perjuangannya, jelas warna kebijakannya.  Tidak banyak politisi negarawan yang memiliki karakter konsisten dan setia terhadap cita-cita besar partai dan NKRI.   Bahkan mereka rela dipenjara demi ideology yang diyakininya.
Politik kita saat ini seperti kehilangan karakter.  Sebagian besar semata-mata hanya transaksional, untuk uang dan kekuasaan.  Padahal karakter merupakan kemudi kehidupan yang mestinya tidak bisa diperjual belikan.  “Jika kita kehilangan karakter, berarti telah kehilangan segalanya,” tutur Wakil Sekjen DPP, yang juga Koordinator Partai Golkar Provinsi Sumatera Utara, Leo Nababan.
Menurut Leo Nababan, sistem politik Indonesia saat ini kurang tepat dengan suara terbanyak sebab pertama, pendidikan masyarakat belum tinggi dan merata.  Kemudian kedua, ekonomi masyarakat juga daya beli masih rendah dan ketiga, budaya politik dan sistem kepartaian belum jelas sehingga membutuhkan politik biaya yang tinggi.  Selama sistem ini tidak diubah maka perbanyaklah ruangan tahanan di KPK karena bagaimana mungkin seorang Bupati atau Gubernur terpilih jika tidak punya uang banyak?  Yang menjadi kecemasan dan keprihatinan Leo Nababan saat ini adalah begitu ketatnya KPK meng-watch proyek-proyek, maka Kepala Daerah hanya menukar-nukar Kepala Dinas dan Kepala Badan.  Alangkah indahnya jika itu disesuaikan dengan karir golongan dan kompetensinya.
Perjalanan politik Leo Nababan tidak lahir dari ruang hampa atau muncul secara tiba-tiba.  Sama seperti perjalanan hidupnya, meniti langkah demi langkah dari bawah dengan sabar dan tangguh tak kenal lelah.   Kiprahnya di organisasi menempa sekaligus mematangkan Leo sebagai tokoh muda di pentas nasional dengan wawasan dan pandangan yang luas.  Sejak mahasiswa, ia telah aktif di Gerakan Mahasiswa Kosgoro yang merupakan organ Kosgoro, salah satu sekber pendiri Partai Golkar, hingga menjabat sebagai Sekjen DPP Gema Kosgoro.  Di bidang kepemudaan pula, ia aktif di OKK DPP AMPI.  Tentu saja, ia bukan kader karbitan.  Jadi sejak mahasiswa, dia secara tidak langsung sudah aktif berpartai di Golkar.
Kesetiaan dan konsistensi.  Setia adalah ciri khas dan karakter kuat dari sosok Leo.  Hal ini unik dan jarang terjadi dalam dunia politik.  Leo yang sejak muda sudah giat berkiprah di ormas kepemudaan Golkar, tetap bertahan, setia dan konsisten dengan pilihannya di Partai Golkar sampai sekarang.  Padahal, ia banyak ditawari oleh partai lain namun ditolak sebab Leo memulai karir dengan merangkak dari ormas di cabang DPC Gema Kosgoro, ke DPD tingkat 1 dan hingga sampai di DPP.
Semasa aktif di Gema Kosgoro, Leo sempat dicalonkan sebagai ketua umum.  Namun karena diskriminasi dan ketidakadilan, ia harus mengalah sampai cukup membacakan visinya di sidang paripurna visi misi menjelang pemilihan, karena bagi Leo, keutuhan keluarga besar Gema Kosgoro diatas kepentingan pribadinya.  Tapi ia tidak mau menyerah dengan keadaan dan melawan sambil mengajak Ketua Umum terpilih, Zainuddin Amali berkolaborasi membangun Gema Kosgoro.  Akhirnya ia dipercaya memegang jabatan Sekretaris Jenderal DPP Gema Kosgoro.  Kesempatan bukan diterima, tapi harus kita yang membuat.  Sampai saat ini, hubungan pribadi antara Leo Nababan dengan Zainuddin Amali seperti keluarga.  Bagi Leo, setidaknya ada tiga syarat seseorang untuk maju yakni menguasai pilar 3 C, capital (modal), capability (kapasitas) danconnection (jaringan).    Ketiganya saling berhubungan satu sama lain dan tak terpisahkan.  Modal dan kapasitas tidak berarti kalau tidak ada koneksi.  Mau jadi orang hebat harus punya koneksi kemana-mana.  Pepatah mengatakan, the key of life is friendship.  Kunci kehidupan adalah pergaulan dan persahabatan.
Sisi Lain Agung Laksono
Bagi Leo, selain kerja keras dan disiplin, hal yang tidak kalah utama adalah setia pada panggilan dan Tuhan.  Rumus kesetiaan inilah yang diberikan kepada Agung Laksono sampai sekarang.  Bagi Leo, Menkokesra saat ini adalah sosok guru yang sangat ia hormati.  Leo tetap menjadi orang utama kepercayaan Agung padahal banyak yang pintar dan mumpuni disekitar Menkokesra.  Amanah yang diberikan kepadanya senantiasa ia pertahankan dengan menjaga dan menjunjung tinggi.
Kesetiaan terletak pada etika dan tingkah laku.  “Kalau kita cuma staf, jangan ambil makrifat pimpinan.  Saya Staf Khusus Menko, maka saya tidak boleh lebih besar dari beliau.  Kita adalah pelayan.  Jadi, kerjakan dengan baik ajaran agama itu,” tuturnya.
Seorang staf yang baik, bagi Leo, tidak datang kepada pimpinan hanya membawa masalah saja.  Sebaliknya, ia harus berfikir bagaimana bisa membantu pimpinan dalam menyelesaikan berbagai masalah.  Keputusan tidak bisa diambil staf karena itu merupakan domain pimpinan.  Kita boleh memberikan 1000 saran tapi decision-making tetap ada pada pimpinan.
Hubungan Leo dengan Agung memang sangat harmonis, terjalin hingga puluhan tahun.  Tapi bukan berarti tidak ada perbedaan pendapat karena berbeda merupakan sebuah anugerah.  Tentu saja tidak perlu ngotot-ngototan atau lain di mulut lain di pelaksanaan.  Staf harus meyakini keputusan pimpinan merupakan yang terbaik.  Itu kata kunci!
Leo mengkisahkan bukti loyalitas kepada pimpinan.  Misalnya pimpinan berkata, Leo langit itu kuning, tapi saya akan katakan salah Bapak, langit itu biru.  Dia pukul meja, Leo langit itu kuning.  Saya akan bertahan dan mengatakan langit itu biru.  Dia tampar muka saya dan berkata lagi, langit itu kuning.  Saya akan tetap bertahan, langit itu biru.  Lalu dia lempar benda ke saya, dan tetap saya katakan langit itu kuning.  Saya katakan, iya Bapak, saya ikut, langit itu kuning.  Itulah loyalitas yang sesungguhnya.  Ini bukan berarti staf membebek saja kepada pimpinan.  Staff juga mengoreksi pimpinan dalam batas-batas tertentu.  Namun hal itu juga tergantung pada sosok pemimpinnya sebab di republik ini banyak pimpinan yang tidak mau dikoreksi.    “Saya bersyukur Pak Agung Laksono tidak termasuk jajaran pemimpin yang terakhir,” ungkap Leo.
Kedekatannya dengan Agung Laksono membuat Leo dijuluki sebagai “orang ke-2 dari orang penting.”  Memang sangat jarang terjadi di Indonesia sebuah persahabatan politik yang bermartabat dan bisa berlangsung langgeng puluhan tahun seperti keduanya.  Mereka tidak hanya saling mengisi, tapi juga bersinergi dan bersenyawa.  Hampir disetiap lini kehidupan keduanya, persahabatan itu membangun karir politik mereka berjalan secara paralel, juga dibidang organisasi dan bisnis.
Tatkala Agung Laksono menjabat sebagai Menko Kesra, Leo Nababan menjabat sebagai Staf Khusus Menko Kesra, jabatan birokrat yang setara dengan pejabat Eselon 1-B.  Agung yang duduk sebagai Wakil Ketua Umum DPP Partai Golkar periode 2009-2014 juga mengangkat performa Leo sebagai Wakil Sekretaris Jenderal DPP Partai Golkar.  Di bidang bisnis, keduanya pun membangunnya sejak lama.  Demikian pula dalam hubungan keluarga.  Ketika Agung mendirikan maskapai penerbangan AdamAir, dan duduk sebagai Presiden Komisaris, Leo pun duduk sebagai Direktur Humas.  Di perusahaan lain yang pernah didirikan dan dimiliki Agung, Leo pun ada didalamnya.  Ketika undang-undang membatasi aktivitas bisnis pejabat tinggi negara, ketika Agung melepas unit-unit usaha itu, Leo pun otomatis ikut melepaskan diri.
Pertautan jiwa raga itu bermula saat Leo Nababan dipercaya sebagai Ketua Pelaksana Kemah Bakti Wisata Nusantara,  mahasiswa Kosgoro se-Indonesia di desa Tanjung Beringin, Kecamatan Tanjung Beringin, Kabupaten Pesisis Selatan, Sumatera Barat.  Namun ketika itu, panitia kekurangan biaya.  Untuk itu butuh Rp. 15 juta agar pelaksanaan kegiatan berjalan.  Leo menghadap Ketua Umum DPK Kosgoro Mas Suprapto dengan didampingi Sekjennya, Agung Laksono.  Saat itu PPK bersedia menalangi, namun Leo harus meninggalkan cincin dan jam tangannya sebagai jaminan dari Ketua Pelaksana.  “Rupanya, kenekatan saya ini berbekas di hati Pak Agung Laksono sampai dua minggu kemudian, kami melaporkan kegiatan telah sukses, dan barang saya dipulangkan.  Dan sejak itu, mungkin Pak Agung Laksono menilai positif terhadap diri saya.  Itu adalah awal Pak Agung Laksono mengenal saya pribadi, sebagai mahasiswa,” kenang Leo sebagai sosok yang memiliki tekad dan kerja keras dan bertanggung jawab.
Kala itu, sebagai aktivis Gerakan Mahasiswa Kesatuan Serbaguna Gotong Royong (Gema Kosgoro), organisasi kepemudaan underbow Kosgoro, Leo terpilih sebagai Sekjen DPP.  Pada saat bersamaan, Agung Laksono juga terpilih sebagai Sekjen Pimpinan Pusat Kolektif (PPK) Kosgoro.  “Di forum Kosgoro itulah saya kenalan dengan Agung Laksono saat beliau Sekjen Kosgoro Induk,” ungkap Leo mengenang ihwal pertama kali berkenalan dengan Agung Laksono yang ternyata langgeng hingga sekarang.
Leo mengaku, pertemuannya dengan Agung Laksono semata-mata karena dipertemukan Tuhan.  Persahabatan yang langgeng hingga saat ini dengan saling mengisi, bersinergi dan membutuhkan satu sama lain, sulit terjadi tanpa bimbingan Tuhan.  “Sebenarnya kita itu dipertemukan oleh Tuhan karena saling mengisi saja.  Dengan beliau, saya tidak ada apa-apanya tanpa beliau.  Mungkin, bagi beliau ada juga gunanya saya ada disampingnya.  Mungkin kira-kira begitu.  Mungkin dalam kehidupan ini susah cari teman yang betul-betul sahabat dan bisa sehati dan sepikir,” ujar Leo bersahaja.
Sejak pertemuan itu, keduanya nyaris selalu bersama.  Dalam rapat-rapat organisasi, Agung tertarik mendengar paparan ide-ide Leo tentang konsep membangun masa depan bangsa.  Sampai akhirnya Agung menarik Leo lebih dari sekadar relasi dalam organisasi.  Leo sendiri mengaku tertarik dengan Kosgoro dan Partai Golkar waktu itu karena sesuai dengan karakternya yang bersifat mandiri, terbuka, demokratis, moderat, solid, mengakar, responsif, majemuk, egaliter serta berorientasi pada karya dan kekaryaan.  Dalam sejarah pendirian Partai Golkar, Kosgoro merupakan salah satu kelompok induk organisasi (Kino) yang menjadi cikal bakal Golongan karya atau Golkar yang didirikan pada 20 Oktober 1964 bersama-sama dengan SOKSI dan MKGR.
Kedekatan keduanya ibarat sekeping mata uang.  Dimana ada Agung, disitu ada Leo.  Yang satu sisi Leo, satunya lagi sisi Agung.  Sejak Agung Laksono naik daun menjadi Menteri Pemudah dan Olahraga (Menpora) pada era terakhir kepemimpinan Soeharto, awal-awal Kabinet Pembangunan VII, Maret-Mei 1998, berlanjut hingga ke Kabinet Reformasi dibawah Presiden Habibie 1998-1999, Leo Nababan turut serta dan didudukkan sebagai Staf Khusus Menpora.
Ketika Agung Laksono duduk sebagai Ketua DPP Partai Golkar Bidang Organisasi, Kaderisasi dan Keanggotaan (OKK) pada era Ketua Umum Akbar Tanjung periode 1998-2004, kemudian Agung terpilih sebagai Ketua DPR RI periode 2004-2009, Leo pun mendampingi sebagai Staf Khusus Ketua DPR RI.  Pada masa Golkar dibawah pimpinan Ketua Umum Jusuf Kalla periode 2004-2009, Agung duduk sebagai Wakil Ketua Umum DPP Partai Golkar sementara Leo Nababan duduk sebagai Departemen Pemenangan Pemilu DPP Golkar, juga merangkap anggota Koordinator Bidang Pemenangan Pemilu wilayah Sumatera Utara hingga Aceh di era Ketua Umum Jusuf Kalla.
Uniknya, dalam kekeluargaan pun terjadi persamaan.  Keduanya sama-sama memperistri putri Minahasa.  Memang tidak ada hubungan darah atau keluarga secara langsung antara istri Agung dan istri Leo, tapi keduanya sama-sama berasal dari Manado.  Klop jadinya.  Secara tidak langsung, tradisi kekeluargaan diantara mereka pun tidak jauh berbeda.
 Setia, Berbakti dan Melayani
Setia, merupakan kunci kebersamaan Leo dengan Agung.  Kesetiaan merupakan elemen penting untuk bisa mengatasi persoalan hidup termasuk meraih kehidupan dan prestasi kerja yang baik.  Kesetiaan ditentukan oleh tingkah laku, bagaimana beradaptasi dan menempatkan diri dengan baik dan benar.  Jika posisi kita sebagai staf maka harus melayani atasan dengan setia.  Tidak boleh staf merasa lebih besar dari atasan.  “Sebagai Staf Khusus, saya tidak boleh lebih besar dari Pak Agung Laksono.  Tapi sebagai anak buah, harus memberikan pelayanan maksimal,” tutur Leo.
Bagi Leo, menjadi anak buah tidak berarti harus membebek.  Tapi harus berani mengoreksi atasan jika sudah keluar dari jalur.  Tentu saja ada batasannya saat melakukan koreksi dan itu pun sudah dilakukan Leo selama ini.  Kepada Agung, Leo memberikan kesetiaan dan kejujuran sebab hal itu diyakininya sebagai modal utama dan terpenting yang memang sangat dibutuhkan atasannya.  “Jadi, kalau anda seorang bawahan, berlakulah seperti pelayan.  Kita melayani, melayani melayani dan melayani.  Dan kita setia kepada panggilan kita,” tegasnya.
Kesetiaanlah yang membuat Leo bisa selalu mendampingi Agung.  Bagi politisi, kesetiaan merupakan kunci keberhasilan dalam perjuangan.  Dalam berpolitik pun harus setia kepada pemimpin.  Bukan hanya pemimpin, pada konteks lebih luas, harus setia kepada partai, dan lebih luas lagi setia kepada NKRI.
Kesetiaan Leo juga dibuktikan dengan konsistensinya untuk bergiat dan berkarya di Partai Golkar yang Ia ikuti sejak mahasiswa.  Kendati berjuang dari bawah, mendaki ke atas dengan segala pahit getirnya, Leo setia tidak terpesona dengan partai lain.  Seperti halnya persahabatannya dengan Agung Laksono, persemayaman Leo di partai beringin itu pun akan dituntaskan, setia sampai akhir.
Leo merasa beruntung berkarir di Partai Golkar yang konsisten tetap berada dalam bingkai NKRI, berfalsafah Pancasila dan UUD 1945 di setiap orde kehidupan.  Akulturasi kebangsaan yang berlangsung di tubuh Partai Golkar menurutnya merupakan senjata paling ampuh dan kuat untuk mempererat kehidupan kebangsaan baik di masa kini dan masa depan.  Bagi Leo, Golkar merupakan partai sekaligus kekuatan politik yang sudah teruji selama puluhan tahun berkiprah.
Berlindung dibawah rerimbunan Partai Golkar yang berpengaruh memang membuat Leo bangga, tapi tidak lantas Ia menjadi sombong.  Ia bertekad, sampai kapanpun tidak akan pernah pindah dari partai berlambang beringin itu.  Jika harus menjadi kutu loncat, bagi Leo, lebih bagus tidak berpartai sekalian, karena hal itu akan terkait dengan integritasnya sebagai manusia yang warisannya harus dijaga kemurniannya kepada anak cucu
“Jangan sampai anak cucu kita mengatakan, ‘ah, Ompung kita kita itu dulu partai A, setelah itu melompat ke Partai B’. Itu tidak benar dan tidak mendidik,” tuturnya.  Leo memilih akan beristirahat saja dan mendukung Golkar dengan doa bila kelak tak lagi digunakan partai.  Loncat partai merupakan tindakan yang tidak beretika dalam politik, apalagi karena perbedaan pendapat saja atau kalah dalam perebutan jabatan.  “Tetapi ini pendapat pribadi, lho,” tambahnya.
Roda kehidupan selalu berputar.  Ada kalanya manusia ada di atas, dan sudah pasti pernah pula di bawah.  Kesetiaan Leo mendampingi Agung Laksono pun tidak selalu dengan suka cita.  Pasti ada pula masa-masa sulit.  Pada masa pemerintahan Gus Dur dan Megawati, Agung Laksono tidak menjabat dalam posisi pemerintahan.  Secara otomatis, Leo pun mengikuti.  Pada masa itu, absen dari pemerintahan, keduanya tetap bersama kembali membangun bisnis.  “Disini, saya diajar Pak Agung Laksono bahwa kepemimpinan di ormas atau orpol bahkan negara akan terjadi perputaran.  Jadi jangan karena tidak masuk dalam jajaran kepengurusan lagi langsung ngambek membentuk partai baru,” tutur Leo.
Selain setia, Leo pun memposisikan diri sebagai kritikus paling wahid terhadap Agung.  Bagi Leo, orang yang paling sayang adalah orang yang paling berani mengkritik.  Dan hal itu pun ditunjukkan Leo kepada atasannya.  “Kesetiaan adalah segalanya.  Tapi kritik tetap penting sebab banyak pemimpin Indonesia jatuh karena tidak mau dikritik,” jelasnya.
Politisi tulen pada dasarnya memiliki orang kepercayaan tapi juga harus berani mengkritik big boss.  Sebagai orang yang berada dibalik layar, Leo berupaya maksimal dalam menjalankan tugasnya.  Ia rajin membaca Koran secara teratur, menonton televisi dan mencari sumber-sumber informasi penting lainnya untuk memantau setiap perkembangan.  Leo memberikan masukan kepada Agung pada saat sarapan, olahraga, termasuk mendampingi aktivitas penting lainnya.  “Pak Agung adalah manajer yang handal, pendengar yang baik dan rendah hati.  Kami biasa berbeda pendapat tanpa harus menyakiti,” kata leo.
Buku yang hidup
Dari kebersamaan dan persahabatan yang panjang, mau tidak mau, Leo banyak belajar dari sosok Agung Laksono.  Leo menganggap Agung seperti lembaran-lembaran buku yang hidup, mengajarinya banyak hal.  Energi Agung diserap Leo sebab Agung juga merupakan tokoh nasional yang memulai karir dari bawah.  Agung bekerja bukan dari koneksi, fasilitas atau lainnya.  Agung mengerjakan setiap pekerjaan sampai tuntas.  “Saya banyak belajar tentang disiplin dan kerja keras dari beliau.  Seperti buku yang hidup, setiap hari bisa dibaca,” Kata Leo.
Ada pengalaman khusus bagi Leo Nababan selama mengikuti Agung Laksono.  Sebanyak puluhan kali Leo selalu dipercaya menjadi tim safari Ramadhan, baik sebagai Ketua DPR, Menko Kesra, atau sebagai pengurus partai.  Leo selalu diberi mandate untuk memimpin rombongan ini.  Dalam diri Agung Laksono, selalu Leo bertemu soal toleransi beragama.  Leo banyak diajarkan bagaimana membantu sesama di berbagai daerah di pelosok tanah air melalui kegiatan safari Ramadhan dan Leo pun bisa mendalami sekaligus menyelami perasaan masyarakat bangsa dalam menjalankan ibadahnya.  “Dalam kehidupan sehari-hari Pak Agung Laksono dan saya sangat sepaham agar toleransi beragama di republik tercinta ini harus semakin diperdalam, karena kami berkeyakinan, bahwa perbedaan itu adalah rahmat,” ungkap Leo.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar